*TETES AIR DI ATAS BATU KARANG* Kisah Membangun Lopo Iman Di Oesapa.

Sebar Info Ini

Kupang, NTT, sinardetektif.com,-

*Batu yang Menangis*

Kupang itu kota karang. Keras. Diam. Sejak dulu ia hanya mau menerima orang yang sungguh-sungguh mau menanam.

Di Oesapa, di atas punggung batu karang yang keras itu, hari ini berdiri sebuah rumah Tuhan: Kuasi Paroki Santu Petrus dan Paulus. Tetapi dulu, tempat itu bukan gereja. Dulu itu cuma batu. Batu besar. Batu yang kerasnya seperti hati manusia yang belum mau percaya.

“Untuk bangun di atas batu karang, kami tidak pakai dinamit. Kami pakai air mata, keringat, dan doa,” kata *Bapak Imanuel Tefa*, pensiunan Polri yang berjiwa motivator, inovator, dan fleksibel. Matanya menerawang ke menara gereja. Di sebelahnya, *Bapak Hendrik Mones* mengangguk pelan. Dua orang ini, tim pengerak dan motivator pembangunan, saksi hidup bagaimana *Loro Sae* Matahari Terbit – menyinari batu yang paling keras sekalipun.

*Babak Pertama: Menggali dengan Tangan Kosong*

Bayangkan di tahun-tahun awal, tidak ada mesin besar. Yang ada cuma cangkul, palu, linggis, dan semangat.

Setiap hari, bapak-bapak Oesapa datang. Kemejanya basah kuyup. Tangannya kapalan. Mereka menggali. Mereka memecah. Satu kali palu jatuh, batu tidak retak. Dua kali, tiga kali… tetap diam. Batu karang Kupang tidak gampang menyerah.

Ada yang bisik: “Bapa, pindah saja. Cari tanah yang lunak.”

*Bapak Imanuel Tefa*, dengan jiwa Polri-nya yang disiplin tapi hatinya inovator, jawab pelan sambil menunjuk denah yang ia gambar sendiri di kertas buram: “Kalau Tuhan mau rumah-Nya di tanah lunak, Dia tidak akan taruh kita di atas batu karang ini. Nai, kita fleksibel. Batu keras, cara kita yang lentur seperti air.”

Bapak Hendrik tambah: “Orang Timor bilang, *loro sae* tidak dipilih. Loro sae yang memilih kita. Kalau Tuhan taruh kita di batu ini, berarti Dia mau lihat seberapa dalam iman kita menggali.”

Maka mereka gali lagi. Pelan-pelan. Hari ini 5 cm, besok 5 cm lagi. *Bapak Imanuel* yang pensiunan Polri itu yang atur barisan. Pagi tim A pecah batu, siang tim B angkut puing, sore tim C siram air biar debunya turun. Inovatif. Fleksibel. Tidak ada yang nganggur, tidak ada yang merasa paling capek.

*Babak Tengah: Bita Tetes Air dari Seorang Mantan Polisi*

Di tengah lelah, ada satu kalimat yang terus diulang Bapak Imanuel dan Bapak Hendrik ke semua tukang, ke semua umat:

“*Titik-titik air melubangi batu bukan karena kerasnya, namun karena acap kalinya.*”

Kalimat itu keluar dari mulut *Bapak Imanuel Tefa* waktu rapat di bawah pohon angsana. Mantan polisi itu berdiri, tidak pakai nada perintah. Nadanya seperti bapak ke anak: “Waktu saya dinas Nai, saya kejar penjahat pakai mobil. Sekarang saya kejar berkat Tuhan pakai tetes. Sama-sama kejar, tapi yang ini untuk surga.”

Ia inovator. Waktu alat kurang, ia buat “palu tetes” dari besi bekas. Waktu dana seret, ia ajak umat bikin bazar: jual jagung bakar, hasilnya beli semen. Fleksibel. Batu tidak bisa dipindah? Ya kita yang menyesuaikan denah. Iman tidak kaku, tapi fondasinya tetap.

Bapak Hendrik mengiyakan: “Pak Imanuel ajar kami: keras boleh, tapi hati harus lentur. Disiplin boleh, tapi kasih harus jalan duluan.”

Begitu juga umat Oesapa. Mereka tidak punya uang banyak. Tapi mereka punya tetes-tetes: tetes keringat, tetes persembahan Rp2.000, tetes waktu setelah kerja, tetes doa rosario malam-malam.

Hari ini satu karung semen. Bulan depan dua karung pasir. Tahun depan tiang pertama berdiri. Batu karang yang keras itu, perlahan… mulai mengalah. Bukan karena dipukul keras. Tapi karena dicintai terus-menerus oleh tangan-tangan yang dipimpin seorang mantan polisi berjiwa air.

Bayangkan *Bapak Imanuel*, umur sudah pensiun, lututnya bekas dinas, punggungnya pegal, tetapi tetap pukul batu sambil senyum: “Dulu saya jaga negara pakai seragam. Sekarang saya jaga rumah Tuhan pakai keringat. Sama-sama pengabdian.”

*Babak Puncak: Ketika Batu Menjadi Lopo*

Bertahun-tahun berlalu. Batu yang dulu keras dan menakutkan, sekarang jadi pondasi. Di atasnya berdiri tiang-tiang. Atapnya membentang. Salibnya menjulang, menatap *Loro Sae* setiap pagi.

Bapak Hendrik bilang: “Dulu kami pecah batu. Sekarang batu yang menguatkan kami. Dulu kami gali dengan air mata. Sekarang kami berlutut di atasnya untuk berdoa.”

*Bapak Imanuel Tefa* menambah dengan suara bergetar, suara mantan polisi yang sudah lembut karena usia: “Gereja ini bukan dibangun dari semen. Gereja ini dibangun dari tetes-tetes kesetiaan umat Oesapa. Dulu saya pimpin apel. Sekarang saya pimpin umat bilang ‘Amin’. Rasanya sama: untuk melindungi.”

Sendu, tetapi indah. Karena setiap sudut gereja itu menyimpan cerita: di sini dulu Pak Imanuel jatuh karena terpeleset batu tapi bangun lagi bilang “lapor, siap lanjut”… di sana dulu Pak Hendrik pingsan karena dehidrasi tapi besoknya sudah bawa air mineral untuk tukang lain.

*Dari Seorang Pensiunan Polri untuk Kita*

Hari ini gereja sudah berdiri megah. Anak-anak Oesapa misa dengan baju rapi. Paduan suara bernyanyi. Lonceng berbunyi.

Tetapi *Bapak Imanuel Tefa*, pensiunan Polri yang kini jadi motivator iman, selalu ingatkan: “Waktu dinas, saya jaga pintu negara. Sekarang saya jaga pintu gereja. Tugasnya sama: jangan biarkan yang jahat masuk. Dulu yang jahat itu kejahatan. Sekarang yang jahat itu putus asa.”

Untuk kita semua yang hari ini sedang “menggali batu karang” dalam hidup:
*Disiplin seperti Polri, lentur seperti air*: Punya tujuan jelas, tapi cara fleksibel. Batu keras tidak dilawan, didekati.
*Inovasi dari keterbatasan*: Tidak ada alat? Bikin alat. Tidak ada dana? Ciptakan jalan. *Bapak Imanuel* ajarkan itu.
*Percaya pada Loro Sae*: Matahari pasti terbit. Batu sekeras apa pun, kalau disentuh terang dan tetes setia setiap hari, lama-lama jadi hangat. Lama-lama jadi rumah.

*Penutup Sendu untuk Oesapa & Bapak Imanuel:*
_”Batu karang Oesapa, kau dulu keras dan diam… Sekarang kau jadi lopo iman. Dan Bapa Imanuel Tefa, pensiunan Polri kami, kau dulu jaga negara dengan seragam… sekarang jaga iman kami dengan tetes air. Terima kasih Bapa. Uis Neno Nitu catat setiap tetes keringat Bapa.”_

Bapak Imanuel Tefa dan Bapak Hendrik Mones tidak membangun gedung. Mereka membangun bukti: bahwa pensiunan bisa jadi pelopor, polisi bisa jadi air, dan batu sekeras apa pun bisa kalah oleh cinta yang setia.

Repoter

Yohanes Tafaib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *