Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, sinardetektif.com,- Krisis air bersih kembali melanda Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Pandan di Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. Padahal, sumur bor bantuan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang diresmikan pada 10 Maret 2026 sempat diharapkan menjadi solusi atas persoalan air bersih yang telah berlangsung sejak bencana 25 November 2025.
Namun, harapan itu belum sepenuhnya terwujud. Pantauan di lokasi, Kamis (9/7/2026), menunjukkan mesin pompa air yang sebelumnya terpasang pada instalasi sumur bor sudah tidak terlihat. Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi mengenai keberadaan maupun penyebab mesin pompa tersebut tidak lagi beroperasi.
Di tengah kondisi tersebut, berbagai informasi berkembang di kalangan penghuni. Sebagian menyebut mesin pompa disimpan oleh pengelola, sementara lainnya menduga mesin tersebut hilang. Namun, seluruh informasi itu belum dapat dipastikan kebenarannya.
“Ada yang bilang mesinnya disimpan pengelola, ada juga yang menyebut hilang. Kami sendiri tidak tahu mana yang benar,” ujar seorang penghuni.”
Bagi para penghuni, persoalan air bersih bukan lagi sekadar gangguan fasilitas, melainkan telah menjadi bagian dari perjuangan sehari-hari. Sejak bencana yang melanda pada akhir November 2025, mereka mengaku harus berulang kali mencari cara untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga, mulai dari mandi, mencuci hingga kebutuhan memasak.
Penghuni berinisial BM mengatakan berbagai keluhan telah berulang kali disampaikan kepada pengelola maupun Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Tapanuli Tengah. Namun, hingga kini mereka belum merasakan adanya penyelesaian yang benar-benar mengakhiri persoalan tersebut.
“Kami sudah berulang kali menyampaikan keluhan kepada pengelola maupun dinas terkait, tetapi sampai sekarang belum ada penyelesaian yang nyata,” katanya.
Sebelum mengandalkan sumur bor, penghuni juga memperoleh pasokan air dari jaringan Perumda Air Minum Mual Nauli. Akan tetapi, menurut warga, distribusi air dari jaringan tersebut hingga kini belum kembali normal. Di sisi lain, mereka mengaku masih menerima tagihan penggunaan air yang dipungut melalui pengelola Rusunawa.
“Air tidak mengalir, tetapi tagihan tetap ditarik. Saat kami menyampaikan keluhan, kami diarahkan untuk menghubungi PDAM. Kami berharap ada kejelasan dan solusi dari seluruh pihak terkait,” ujar penghuni lainnya.
Menanggapi keluhan warga, salah seorang pengelola Rusunawa yang akrab disapa Intan melalui pesan di grup WhatsApp penghuni menyampaikan bahwa mesin pompa air pada fasilitas sumur bor sedang dalam proses perbaikan. Ia juga menjelaskan adanya gangguan pada instalasi sumur bor yang menyebabkan distribusi air menuju tandon penampungan belum dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Sebagai langkah sementara, pengelola mengarahkan penghuni Blok B untuk mengambil air melalui jaringan yang dialihkan ke lantai lima hingga proses perbaikan selesai.
Sementara itu, kondisi berbeda dialami penghuni Blok A. Berdasarkan keterangan warga, hingga Kamis (9/7/2026), pasokan air di blok tersebut masih mati total. Air tidak mengalir baik dari jaringan Perumda Air Minum Mual Nauli maupun dari fasilitas sumur bor bantuan CSR, sehingga penghuni Blok A masih mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Warga berharap pemerintah daerah, pengelola Rusunawa, Perumda Air Minum Mual Nauli, serta seluruh pihak terkait segera mengambil langkah konkret agar distribusi air bersih dapat kembali normal.
Mereka menilai kebutuhan air bersih merupakan pelayanan dasar yang harus dipenuhi, sehingga penyelesaian yang diberikan tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu mengakhiri krisis yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
(Tim Red).





